Rabu, 20 Juli 2016

AL-BARZANJI Sebuah Kitab Perlawanan.

Tags

Copas dari grup WA

Anta Syamsun Anta Badrun,

Anta Nuurun Fauqo Nuuri,
Anta Iksiru Wagholi,
Anta Misbahush Shuduri,
Ya Nabi Salam ’Alaika,
Ya Rasul Salam ’Alaika,
Ya Habib Salam ’Alaika,
Sholawatullah ’Alaika.

AL-BARZANJI Sebuah Kitab Perlawanan.

Kitab Al-Barzanji merupakan salah satu kitab yang paling populer dan tersebar luas di seluruh pelosok negeri timur dan barat. Ditulis oleh seorang sufi bernama Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al–Barzanji, Historisitas Kitab Al-Barzanji tidak dapat dipisahkan dari peringatan perayaan Mauwlid Nabi SAW, untuk yang pertama kalinya. Yaitu ketika terjadi penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh tentara the Crusader dari daratan Eropa. Ketika itu pasukan Islam kalah, dan tentara the Crusader berhasil menguasai Yerusalem (Palestina). Tidak hanya itu, masjid Al-Aqso yang notabene kiblat pertama umat Islam, juga telah dialih-fungsikan menjadi gereja oleh tentara Salib. Tak ayal, tentara Islam melemah serta kehilangan semangatnya untuk menghadapi dan melawan pasukan the Crusader.

Di tengah melemahnya semangat juang tentara Islam, muncullah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (memerintah dari tahun 1174-1193 M dengan pusat pemerintahan di Kairo, Mesir) tampil mempimpin perlawanan. Menurut Salahuddin, bahwa semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.

Salahuddin kemudian meminta persetujuan Khalifah di Baghdad yakni An-Nashir (waktu Makkah belum dikuasai oleh Dinasti Ibnu Saud seperti sekarang ini). Khalifah An-Nashir setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H / 1183 M, Salahuddin mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera mengumumkan kepada masyarakat Islam dimana saja berada, bahwa mulai tahun 580 / 1184 M tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai hari Mauwlid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama. Para ulama berdalih bahwa kegiatan mauwlid tidak pernah ada dijaman Rosulullah SAW. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Mauwlid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Kitab Al-Barzanji sendiri mulanya berjudul ‘Iqd Al-Jawhar fi Mauwlid An-Nabiyyil Azhar (kalung permata pada kelahiran Nabi ternama) yang kemudian diganti judulnya menjadi Al-Barzanji. Kandungannya merupakan khulasah (ringkasan) Sirah Nabawiyah yang meliputi kisah kelahirannya, pengutusannya menjadi rasul, hijrah, akhlaq, peperangan, kemampuan berpolitik, hingga wafatnya. Dikemas dengan bahasa yang sangat puitis yang sangat indah. Penggunaan bahasa-bahasa puitik dalam pengisahan sejarah nabi menciptakan suasana mistis dan membangkitkan semangat pembacanya. Saking terpukaunya, pengarang kitab ini menyebut Sang Nabi dalam sapaan-sapaan bahasa kosmik seperti ”Wahai Engkau Sang Mentari, Wahai Engkau Sang Rebulan, dan sebagainya“.

Ringkasnya, karya Al-Barzanji bukanlah sekedar tulisan untuk menjadi bacaan referensi, melainkan kumpulan gubahan kata-kata yang membangkitkan kesadarann perlawanan. Dan sejarah mencatat, pembacaan kitab Al-Barzanji dalam peringatan-peringatan Mauwlid Nabi yang digalakkan oleh Sultan Salahuddin berhasil membangkitkan kesadaran umat Islam melawan tentara the Crusader. Pada tahun 1187 M, Sultan Salahuddin berhasil menghimpun kembali kekuatan umat dan merebut kembali Yerusalem, dan Masjidil Aqsa dikembalikan lagi fungsinya sebagai masjid.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon