Rabu, 20 Juli 2016

Membedah Logika “Ikut Ulama apa Ikut Nabi Saw?”

Tags

Copas dari grup WA

Membedah Logika “Ikut Ulama apa Ikut Nabi Saw?”

Oleh: A. Kholili Hasib

Madzhab itu bersumberkan dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Ulama mujtahid, sudah tentu tidak meninggalkan sunnah Nabi. Jika membuang sunnah, sudah pasti tidak akan disebut ulama. Framework inilah yang pertama-tama dipahamkan. Apabila landasan itu tidak kita pahami, seterusnya terjadi kesalah fahaman.

Karena itulah kita harus berhati-hati. Kearifan dan hikmah dalam menyikapinya. Supaya kita tidak menjadi ‘penyulut’ perpecahan. Apalagi menyangkut kehormatan ulama salaf shalih.
-------------
Wajib Ikut Nabi

Sudah jelas, mengikuti ulama didasarkan atas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ada ketersambungan antara taat ulama dan taat Allah – Rasul-Nya. Ketaatan pada ulama tidak berdiri sendiri.
-------------
Setelah Rasulullah dan Sahabat telah tiada, ilmu ada pada genggaman ulama. ketika Hajjatul Wada’ Nabi Saw bersabda, “Ambillah ilmu sebelum sebelum ia dicabut atau diangkat.” Maka ada seorang Badui yang bertanya, “Bagaimana ia diangkat?”. Maka beliau menjawab, “Ketahuilah, hilangnya ilmu adalah dengan perginya (meninggalnya) orang-orang yang mengembannya.” (lihat Ibnu Hajar, Fath al-Bari /1 hal. 237-238).

Karena itu, jika yang dimaksud adalah ulama salaf shalih, ulama madzhab, maka mempertentangkannya dengan nabi tidak tepat. Jika kita mempertentangkan dengan logika dikotomis, berarti dalam pikiran kita ada kesombongan dan suudzan pada ulama. Seakan kita lebih tahu dari ulama itu.

Pengikut madzhab, semuanya mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Tapi mengikutinya sesuai tuntunan. Yang memahami tuntutan itu adalah ulama, bukan seperti kita yang masih kikuk membaca teks arab gundul.
-------------
Memang benar umat Islam harus mengikuti Nabi Saw, melalui hadis-hadisnya. Akan tetapi sebuah hadis boleh diamalkan setelah dipahami maksud dan hukum yang dikandungnya. Sebuah hadis tidak cukup diketahui status keabsahannya saja.

Jika ditemukan sebuah hadis shahih, tidak bisa langsung dipakai. Bahkan, hadis shahih ada yang tidak diamalkan ulama (didiamkan). Sebabnya banyak. Misalnya diketahui hadis shahih itu telah di mansukh, makna masih dzanni sehingga menimbulkan penafsiran yang tidak tunggal.
-------------
Tidak sekedar hadis shahih langsung diamalkan, bisa keliru. Kekeliruan karena tidak utuh pengetahuan hadis dan fikihnya. Di sinilah pentingnya mengikuti jejak ulama untuk mengikuti Nabi.

Dalam hal ini seorang murid imam Malik, Ibnu Wahab, berkata: Kalau saja saya  tidak bertemu dengan Imam Malik  dan al-Laits bin Saad, maka celakalah saya.Dahulu saya menyangka segala sesuatu yang datang dari Nabi itu pasti harus diamalkan. ( Tarikh Dimasyq, h. 50/ 359).

Dalam benak Ibnu Wahab, ia selamat dari kesesaatan karena mengikut Imam Malik. Bagaimana jika ia tidak ikut siapa-siapa, tapi langsung ‘mengamalkan’ semua hadis yang ia dapatkan?

Kembali itu ada jalan dan metodenya. Jika tidak tahu jalan dan cara, kita tersesat. Seperti kita mau kembali pulang ke kota Jakarta, ada jalan dan kendaraanya. Jika tidak tahu, maka bisa tersesat ke Banten. Ketika tidak tahu jalan, apakah bisa kembali sendirian tanpa dituntun?

Jika setiap orang langsung merujuk kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dalam setiap masalah,apa yang akan terjadi? Maka, setiap orang akan menafsirkan al-Qur’an dan al-Sunnah menurut pikirannya sendiri.

Padahal setiap orang berbeda-beda kemampuan memahami al-Qur’an. Bahkan, yang banyak awam terhadap isi al-Qur’an. Bagi yang awam tidak mungkin bisa langsung merujuk, tanpa melalui ulama (madzhab). Merujuk langsung tanpa melalui ulama berpotensi menjadi liberal. Bebas memaknai.
-------------
Ulama Ikut Nabi

Ikut madzhab, berarti kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, sesuai tuntunan sesuai metode yang benar. Kita tidak bisa langsung loncat kepada al-Qur’an. Tetapi melalui jalan metodologis. Metodologi itulah yang termaktub dalam madzhab.

Para pemuka madzhab kita adalah orang-orang yang sangat paham tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Bisa dicek, hasil ijtihad yang mana dalam suatu madzhab dari madzhab yang empat, yang tidak kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits?

Teks (nash) Hadis misalnya tidak bisa secara ‘mentah’ langsung dipakai secara bebas oleh semua orang sebagai dalil. Para fuqaha’ (ahli fikih) yang bertugas menggali makna, maksud dan kandungan hukumnya. Karena mereka memiliki metodogi pakem.
-------------
Sebagai salah satu sumber hukum, hadits senantiasa digunakan oleh para ulama Islam dalam konteks disiplin yang lain (fiqih, ilmu kalam, tashawwuf dll). Dalam arti, hadis dalam pemikiran para ulama dahulu tidak dapat berdiri sendiri. Ia salah satu bahan baku untuk mengeluarkan fatwa. Fikih itu bisa kita sebut produk fatwa, yang ‘siap saji’, untuk diamalkan kaum muslimin.

Logika mempertentangkan hadis Nabi dan pendapat imam Madzhab sebaiknya tidak digunakan lagi. Apalagi fikihnya para imam Madzhab itu memiliki sanad yang bersambung kepada Nabi Saw.
-------------
Kita tidak boleh menyangka bahwa imam mazhab yang empat tidak tahu hadits atau ilmu hadits. Kita juga tidak boleh menyangka bahwa para pengikut (muqallid) imam-imam ini tidak tahu hadits dan ilmunya. Jika kita sebut salah satu dari mereka tidak tahu hadis, pertanyaannya, lalu siapa kita?
-------------
Selengkapnya baca di sumber artikel :
http://inpasonline.com/new/membedah-logika-ikut-ulama-apa-ikut-nabi-saw/

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon