Rabu, 20 Juli 2016

MENGINTIP RIWAYAT CATUR DI INDONESIA

Tags

copas grup wa


Kalo menurut dulur2 bagus, bantu share ya
ini sharenya andi arif :
MENGINTIP RIWAYAT CATUR DI INDONESIA
OLEH ANDI ARIEF
RABU, 29 JUNI 2011 , 11:48:00 WIB


KITA semua kenal Anatoli Karpov, Kashparov, Bobi Fischer dan Utut Adianto. Kita juga tahu Dana Persatuan Catur Rusia jauh lebih besar dari Dana Persatuan Induk Catur Internasional (FIDE).
Tetapi, apakah catur memang berasal dari Rusia, seperti yang dibayangkan banyak orang?
Yang jelas, sejumlah studi memperlihatkan bahwa pada abad 15 catur telah jadi bagian tradisi perjudian di kawasan Nusantara di samping permainan dam (checkers). Bedanya, catur dimainkan oleh kelompok bangsawan, sementara dam lebih banyak jadi permainan di kalangan awam.
Baru satu abad kemudian catur merambah kalangan awam di Nusantara. Pada tahun 1509, kedatangan kapal Portugis di Malaka mengagetkan seorang pekerja kapal dari Jawa yang melihat Diego Lopez bermain catur.
Lopez dan pekerja dari Jawa ini bermain dan mendiskusikan permainan catur itu. Di tahun 1540-an banyak orang bermain catur di Maluku. Catur sangat populer di kerajaan Melayu terutama di Pasai (Sumatera bagian utara).
Dua tarikh utama sejarah Melayu menyebutkan catur dan berhubungan dengan Pasai. Seorang bernama Tun Bahara berkunjung ke Melaka saat diperintah Sultan Mansur (1459-1477). Tun Bahara tak terkalahkan dalam permainan catur. Saking tangguhnya disebutkan bahwa di saat lawannya berfikir keras, Tun Bahara bermain seperti tanpa berfikir.
Jauh sebelumnya ada kejadian menarik, utusan Kerajaan Pasai mengirimkan papan catur emas dengan bidak-bidak dari permata kepada Raja Ayutthaya. Ini menunjukkan kenyatakan orang Batak dari Sumatera bagian utara yang relatif terasing empat setengah abad lebih dari perdagangan internasional ternyata di zaman modern ini paling bersemangat bermain catur dan menghasilkan pemain terbaik.
Pada tahun 1916 Tanah Karo dibuka untuk perdagangan. Pemain-pemain terbaik Belanda di Jawa dibuat terkagum-kagum dengan seorang pemain catur Karo.
Tidak jelas apakah tradisi catur ini berasal dari Kesultanan Pasai abad 14 atau pengaruh dari India terhadap masyarakat Karo, ataukah jauh sebelum itu catur ini sudah ada.
Kita mengenal strategi Karokhan Hindia Raja dalam catur modern, di samping Gambit Raja atau Pertahanan Sisilia.
Menurut beberapa versi, asal muasal catur disebut dari China, Persia, dan India. Sulit untuk membuktikannya. Tetapi sebagai mana dibuktikan dalam studi Anthony Reid, meskipun sejumlah istilah Arab dan Persia digunakan namun catur yang diperkenalkan di Asia Tenggara berasal dari India sulit untuk dibantah. Bahasa di sejumlah kawasan Asia bagian tenggara adalah derivasi.
Kata Sansekerta, catur berasal dari kata Chaturanga yang juga mengikuti model papan catur 8 x 8 model India. Jika diartikan Chaturranga adalah empat unsur tentara yaitu gajah, kuda, kereta perang, dan serdadu. Jenis catur di Indonesia dan Asia Tenggara mencakup keempatnya. Kecuali kereta perang yang tak digunakan di hutan seringkali digantikan perahu yang lebih pantas.
Studi Murray memperlihatkan kemiripan Melayu, Jawa dan Sansekerta dalam permainan ini. Dalam Sansekerta: raja, menteri, gajah, kuda, kereta, serdadu. Di Melayu: raja, menteri, gajah, kuda, kereta, serdadu. Di Jawa: raja (gusti), patih, mantri, kuda, perahu, serdadu.
Pertanyaannya, apakah catur ada sebelum India ada?
Dari kesemuanya, kini standar internasional hanya sedikit berbeda aturan yang diberlakukan di Melayu. Hanya dua perbedaannya: pertama, kemampuan raja melangkahi dua bidang. Kedua, gerakan kuda waktu pertama kali terancam tidak berbentuk huruf L.
Menariknya, catur yang tadinya dikenal sebagai permainan para raja kini menjadi olahraga yang sangat memasyarakat di Indonesia. Bahkan di beberapa tempat menjadi tempat bertaruh seperti lima abad abad yang lalu, dimana catur ini menjadi ajang taruhan di samping sabung ayam, sabung burung, adu kemiri, menaikkan layang, bermain kartu, dan dadu.
Adapun dadu, konon dikenal sebagai permainan sejak jaman para sejarah. Dalam kisah Mahabharata, Selengkapnya: http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=31536

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon