Rabu, 20 Juli 2016

SKENARIO IMAJINATIF: INDONESIA TANPA PANCASILA

Tags

Copas dari grupo wa

SKENARIO IMAJINATIF: INDONESIA TANPA PANCASILA


Oleh Anis Ilahi

Dalam alam "pertikaian" antara ideologi negara sekuler dan negara agama itulah, para  Pendiri Bangsa Indonesia mampu meramu ideologi jalan tengah, Pancasila. Para Pendiri Negara kita dengan sangat cemerlang mampu menyepakati pilihan yang pas tentang dasar negara sesuai dengan karakter bangsa, sangat orisinal, menjadi sebuah negara modern yang berkarakter relegius, tidak sebagai negara sekuler juga tidak sebagai negara agama  (Buku : "Negara Pancasila, Jalan Kemasalahtan Berbangsa" As'ad Ali, LP3ES, Jakarta 2009).

Secara implisit pandangan di atas juga menegaskan bahwa Pancasila  sebagai ideology jalan tengah disamping memiliki keunggulan juga memiliki bahaya laten (musuh dalam selimut) dari para penganut aliran negara sekuler atau negara agama. Kedua penganut aliran ini masih terus tumbuh, berkembang biak, berikhtiar tiada henti untuk menggantikan Pancasila. Gerakan-gerakan ini semakin massif ditengah “Negara yang tampak lemah atau justru sedang diperlemah oleh tangan-tangan gelap baik oleh kekuatan luar maupun dalam negeri”.

Kemenangan penganut aliran negara agama atau penganut aliran negara sekuler akan menamatkan eksistensi Pancasila dari bumi pertiwi. Skenario Indonesia, tanpa Pancasila, adalah skenario ketika Indonesia menjadi Negara agama atau juga menjadi negara sekuler. Seperti apa wajahnya ?

Negara agama (1)

Aspirasi   "Indonesia sebagai Negara Agama",   bisa jadi milik semua agama yang tumbuh di Indonesia. Skenario itu terus diperjuangkan baik  secara diam-diam, terang-terangan atau juga sebagai skenario cadangan kalau-kalau agama tertentu memaksanakan kehendak, maka wilayah-wilayah yang tidak seagama akan buru-buru melepaskan atau memerdekakakan wilayahnya.

Aspirasi negara agama yang terang-terangan muncul kepermukaan karena gencar dipromosikan adalah mengubah negara Pancasila menjadi negara Islam. Para aktivis dan pendukungnya begitu militan, sangat percaya diri, dan gosip intelejennya mereka terus bergerila menjaring dukungan baik dari kalangan mahasiswa yang unyu-unyu, para profesional yang moralis (sedang mengalami masa puber beragama) , para pns yang oportunis, pejabat bumn yang tajir dan mau enak sendiri serta juga konon katanya menjaring aparat keamanan yang genit menjadi bagian dari barisannya. Konsolidasi kekuatan sebagai instrument “kudeta merangkak” sedang terus digalang, begitu gosipnya. Serem banget gosipnya gitu loh, hehe ...

Aspirasi Indonesia menjadi Negara Islam disamping ada yang rasa  lokal seperti NII (Negara Islam Indonesia), ada juga yang rasa  transnasional (pengaruh dari luar) seperti Hzbut Tahrir, Syiah garis keras (Rafidloh, dll) dan Suni garis keras (ISIS, Wahaby Salafi, dll). Meski ketiganya sama-sama memperjuangkan aspirasi Negara Islam, tetapi   tidaklah satu kata terhadap "bentuk negara Islam itu" sendiri. Katakanlah,  karena masifnya HTI berpromosi ke sana-kemari dan kemampuannya melakukan “konsolidasi (rekrutmen dan ideologisasi) bawah tanah” sehingga memiliki kekuatan besar menghapus Pancasila dan NKRI dari Bumi Pertiwi, kemudian  menggantikannya dengan "Negara Khilafah Al Nusantariyah", maka belum tentu kelompok Syiah (yang mulai banyak pengikutnya di Indonesia) menerima begitu saja dan tentu akan mengibarkan perang.

Melihat Syiah memerangi HTI tentu kelompok-kelompok lain yang anti Syiah khususnya Wahabi Salafi, ISIS, dan keompok Jihadis lainnya (yang mulai banyak pengikutnya di Indonesia)   akan membantu HTI karena sama-sama Suni.  Perang kedua kelompok ini akan sangat hebat di Bumi Pertiwi sebagaimana prototypenya sedang ditunjukan di Syiria, Yaman dan Irak. Perang ini pun akan mengundang dua Negara sponsor seperti Iran dan Saudi beserta konco-konconya (AS, Rusia, Cina, Eropa, Turki, dll). Pulau-pulau besar di Indonesia akan bersimbang darah, tidak saja oleh darah tentara asing, tetapi juga darah orang jawa yang syiah melawah yang sunni, melayu yang syiah melawan yang suni, dst ….

Katakanlah (karena skenario maka harus banyak istilah  “katakanlah”, hehe …) HTI beserta konco-konconya memenangkan perang sehingga Indonesia menjadi Negara Islam Suni bagian dari Khalifah Islam global, maka nasib  “tragis dan mengenaskan” akan dihadapi oleh para Umat  Islam pendukung Negara bangsa berdasar  Pancasila khususnya para Kyai dan Umat Nahdliyin. Mereka akan dibantai tidak saja atas nama penegakan Negara Khalifah tetapi juga atas nama pemurnian agama, karena sebagaimana yang sekarang mereka lakukan melalui media-media miliknya, Kyai dan Umat NU dituduh adalah pelaku bid’ah, khurafat, syirik dan kafir yang harus dilenyapkan dari atas muka bumi. Nasib umat NU mungkin akan lebih mengenaskan daripada peristiwa tahun 1965. Mungkin darah akan kembali mengalir. Kisah seorang Kyai yang dianiaya oleh  PKI dan dibuang bersama puluhan jasad lain ke sumur,  tetapi Kyai itu tidak kunjung meninggal dunia, bahkan terus mengalunkan azan dari dalam sumur dengan alunan nada yang memilukan sehingga membuat ketakutan para PKI penganiayanya, mungkin akan kembali terulang. Oh, NU.. NU ... betapa tidak mudahnya "menyangga" negara ...

Bagaimana dengan umat-umat lain? Meski promosi HTI saat ini mengusung Islam rahmatan lil alamin (islam damai), tetapi belum tentu konsisten terutama setelah berkuasa. Umat non muslim akan tetap menjadi sasaran tembak, kemungkinan meraka akan berpindah lokasi bersatu dengan kelompoknya dan memisahkan diri dengan Negara pusat. Maka sangat boleh jadi Bali, Sulawesi Utara, NTT, Papua akan berdiri menjadi Negara sendiri. Semoga juga tidak melampiaskan dendam mengusir umat muslim yang sudah ada didalamnya …

Indonesia tanpa  Pancasila dan menjadi Negara agama akan dilanda perang besar atas nama agama yang kemungkian terjadi di Jawa sebagai pusat pemerintahan. Perang ini akan mengundang kekecewaan para “orang jawa asli” karena tanah leluhurnya dijadikan “medan perang oleh agama-agama impor”. Para orang jawa asli yang sekarang mulai banyak kembali “menganut aliran kepercayaan karena jengah dengan agama-agama impor yang konflik melulu”, akan kembali mengangkat senjata.

Para Orang jawa  menganggap inilah saat tibanya  era “sabdo palon nawa genggong” sebuah keyakinan  tentang kehancuran Islam di tanah Jawa dan digantikan oleh ajaran “pengganti Islam” setelah 500 tahun keruntuhan Majapahit. Orang-orang jawa akan kembali mengangkat senjata di bawah keyakinan datangnya "sabdo palon nawa gengngong", menentang Negara khilafah di tanah jawa, yang dalam skenario ini  HTI dianggap berhasil memanangkan perjuangannya menghapus Indonesia Tanpa Pancasila. Lagi-lagi ini hanya sebuah skenario lo ya, hehe ... (Salam)

Bagaimana kalau Indonesia menjadi Negara sekuler, nantikan skenario berikutnya..

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon