Rabu, 10 Agustus 2016

MARI BERSAMA INTROPEKSI DIRI

Tags




Jika Imam Syafi’i merasa mendapat bencana saat melihat betis gadis yang tak sengaja tersingkap. Kita malah merasa mendapat nikmat meski tak diungkap.

Jika Sayyidina Umar bin Khottob menginfakkan kebun yang membuatnya ketinggalan shalat ashar. Kita malah biasa saja berulang kali tertinggal meski azan terdengar.

Jika Urwah bin Zubair tak terganggu salatnya saat pisau bedah mengamputasi kaki. Kita bahkan terganggu hanya karena nyamuk yang menggigit ibu jari.

Jika Nabi Ibrahim as.  sangat menyesal karena pernah berbohong meski seumur hidup hanya tiga kali. Kita malah santai saja meski jumlah dusta sudah tak terhitung lagi.

Jika Sayyidatuna ‘Aisyah menyesali mengatakan  “Shafiyah Si Pendek” yang bisa mengubah warna lautan. Lalu bagaimana dengan gunjingan dari mulut kita? Mungkin bisa membuat seluruh samudra menjadi busuk dan pekat kehitaman.

Jika Umar bin Abdul Azis bergetar menahan istrinya berbicara di ruangan yang diterangi pelita minyak yang dibiayai negara. Kita malah keasyikkan menggunakan fasiltas perusahaan seakan milik diri sendiri saja.

Jika serpihan pagar kayu rumah orang yang dijadikan tusuk gigi bisa membuat “Sang Kyai” tertahan untuk masuk surga. Kita malah woles saja menikmati mangga hasil jarahan kebun tetangga.

Sudah begitu …  pede pula meminta surga.

Astaghfirullah..!!
Memang hari ini dunialah yang nyata dan akhirat hanya cerita.

Namun sesudah mati, akhiratlah yang nyata dan dunia tinggal cerita.

Ya, Allah ampuni dosa dan khilafan kami. Satukan kami di surgaMu nanti.  Aamiin

_Selamat siang-

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon